Sabtu, 21 Oktober 2017



KEBIJAKAN X KEBIJAKAN = ?

Kebijakan dari universitas membawa cahaya harapan bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir seperti saya. Memperpanjang waktu pendaftaran wisuda ke-106, dan menambahkan jumlah peserta wisuda sebanyak 500an adalah keputusan yang tepat karena memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang hampir menyelesaikan tugas akhirnya. Namun di sisi lain, sebuah kebijakan diputuskan hanya melihat satu aspek (lagi), dan kembali memupuskan harapan, menghancurkan mimpi, dan mengacaukan mental saya sebagai salah satu yang menelan pahitnya kebijakan itu. Kebijakan itu keluar dari kepala program studi, yaitu tidak mengizinkan mahasiswa untuk daftar ujian skripsi sebelum pertengahan November, dan (mungkin) baru bisa ujian di Desember. Dampak dari kebijakan tersebut adalah mahasiswa tingkat akhir harus menunda waktu kelulusan hingga 4 bulan kedepan, wisuda selanjutnya yang dilaksanakan Februari. Padahal, beberapa mahasiswa telah merampungkan tugas akhirnya, dan telah memeperoleh restu dari pembimbing. Berkas pendaftaranpun telah siap. Bukan tanpa alasan, kebijakan itu diputuskan karena mempertimbangkan keterbatasan dosen yang akan menguji, dikarenakan padatnya jadwal perkuliahan. Asumsinya adalah akan terbengkalainya perkuliahan jika dosen yang mengajar terus diminta untuk menguji mahasiswa tingkat akhir. Namun, kebijakan tersebut hanya berlaku bagi mahasiswa yang mendaftarkan ujian skripsi, tidak berlaku bagi mahasiswa yang mendaftarkan ujian proposal ataupun ujian komprehensif. Padahal semua ujian tersebut juga membutuhkan dosen penguji, yang jumlahnya sama. Bahkan ujian komprehensif membutuhkan penguji lebih banyak. Apakah keputusan itu adil?

Hari itu saya mendaftarkan diri untuk ujian skripsi, berkas yang dibutuhkan sudah lengkap, dan pembimbing saya pun telah merestui. Namun apadaya, berkas saya tidak diterima karena kebijakan (yang saya yakin belum didiskusikan dengan dosen lainnya) terlanjur diucapkan. Seketika dan hingga tulisan ini di posting, perasaan saya campur aduk. Galau, resah, kecewa, sedih, dan takut. Saya menyadari, ada kesalahan dalam diri saya yang tidak memperhitungkan dengan baik kapan saya harus menyelesaikan skripsi, kapan saya harus mendaftar ujian, wisuda ke berapa yang bisa saya ikuti. Saya memang sangat menginginkan menjadi salah satu peserta wisuda ke-106 (di bulan November), namun saya tidak berhasil menyelesaikan semua rangkaian skripsi menuju gelar hingga 6 Oktober 2017 (batas pendaftaran wisuda), saya pun pasrah saat itu dan meyakinkan diri saya bahwa tak lama lagi semuanya akan selesai walaupun saya harus ikut wisuda di selanjutnya. Secercah harapan datang dari universitas, perpanjangan waktu pendaftaran wisuda menjadi 2 minggu lagi dan penambahan kuota peserta wisuda menjadi lebih dari 500. Saya senang, bersemangat, dan berusaha mendapatkan restu dari pembimbing, namun ketika semuanya sudah di depan mata, saya harus kembali menelan kepahitan dari kebijakan yang menurut saya hanya diputuskan sepihak, dan merugikan mahasiswa.

Bagaimana bisa sebuah keputusan program studi tidak sejalan dengan keputusan universitas? Bagaimana bisa kebijakan struktur bawah bertolak belakang dengan atasannya? Sampai kapan semua kegiatan perkuliahan di kampus yang menuju world class university ini berjalan tidak teratur? Salahkah jika saya menuding bahwa keputusan tersebut merugikan dan menghambat impian? Setelah kejadian ini, siapa yang harus disalahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab? Apa yang harus saya lakukan? Hingga tulisan ini diposting, saya masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Semoga saya segera mendapatkan jawaban.

Selasa, 30 Mei 2017



Panjangnya Perjalanan, Jauhnya Pencapaian

                Keluh, kesah, resah, kesal, kecewa, dan sedih. Semua rasa itu bersatu dalam benak jiwa ini, ketika mengetahui panjangnya perjalanan yang harus ditempuh. Puluhan, bahkan mungkin ratusan kilometer harus aku pijaki, untuk mendapatkan sebuat kalimat ‘diizinkan’ dari suatu tempat mulia. Mengikuti sebuat kebijakan dalam instansi, yang menjadi bagian dari birokrasi tidaklah mudah dihadapi. Terlebih jika mengingat jarum jam yang tak henti berputar, dan semakin mendekati kesesuaian waktu dimana sebuah gelar tertulis di akhir nama. Yaa, aku berada di sebuah fase bawah dimana down feeling terjadi, dan semangat diri menjadi redup. Berkelana melawan teriknya matahari, keringat yang membanjiri pakaian, rasa lelah dan keputusasaan dihadapi ‘sendiri’.

            Siang itu, aku memutuskan mendatangi instansi pemberi rekomendasi penelitian di kota Tangerang. Pertanyaan yang memenuhi pikiran, tak sanggup dijawab oleh kemoderenan jaman. Tak puas kurasa, jika hanya mengandalkan internet untuk mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang muncul. Dibawah teriknya matahari, aku pergi menuju instansi tersebut. Mungkin lokasinya tak seberapa jauh bagi para pengendara, tapi tidak bagiku yang hanya seorang penumpang. Sebagai pengguna transportasi umum, kupilih commuter line untuk tiba di instansi tersebut. Dua kali harus transit dengan banyaknya pengguna jasa transportasi umum itu, aku bertahan berada dalam desakan penumpang lain. Tak dapat kursi duduk dan bertahan dalam keadaan berdiri, menambah lelahnya perjalanan. Kurang lebih 120 menit perjalanan aku tempuh, dan akhirnya tiba di lokasi yang dituju.

            Tak banyak berbasa-basi, aku menanyakan segala hal yang tidak kupahami. Semua pertanyaanku terjawab, namun perolehan informasi membuat aku termenung lama. Aku tak tahu, apakah aku akan sanggup menjalankannya? Informasi itu mengharuskan aku mendapatkan surat rekomendasi penelitian dari instansi serupa di daerah sebelah, dimana universitasku berada. Kemudian, aku harus pula mendapatkan surat rekomendasi dari instansi serupa, di provinsi tempat aku melakukan penelitian. Setelah itu, aku baru bisa memperoleh rekomendasi penelitian dari kota Tangerang. Singkatnya aku harus melalui 3 instansi serupa dengan lokasi berbeda untuk bisa melakukan penelitian dengan aman dan sah secara hukum. Provinsi Banten, dengan ibukota Serang mengganggu kepercayaan diriku. Lokasi yang begitu jauh dari kediamanku membuat aku khawatir tidak sanggup menjalankannya. Namun aku tak punya alternatif lokasi penelitian lain, inilah lokasi yang disarankan oleh pembimbingku. Ketika pembimbingnya yang super peduli telah menyarankan, kini tinggal aku yang harus menjalani. Aku sungguh tak ingin mengecewakan pembimbingku, seperti saat sidang proposal lalu. God, help me to pass it, and help me to always fight.

            Keesokan harinya, ku mulai membangun kembali semangat juangku menyelesaikan tugas akhir ini. Dalam seminggu terakhir, bolak balik kampus aku lakukan untuk mengecek apakah surat izin yang aku  buat di kampus sudah selesai atau belum. Hampir 1 minggu dari masa pembuatan, surat izin tersebut tak kunjung tiba sementara jarum jam terus bergerak. Aku kembali frustasi, rencana, target, dan harapan yang disusun terancam berantakan (lagi). Tak kuasa menahan kesal dengan proses perjalanan surat di kampus, aku memilih menyendiri di sebuah ruang yang penuh dnegan susunan buku dalam rak. Dalam kesendirian, aku menangis terisak tanpa suara. Mencoba melepaskan kekesalan dan kekecewaan dalam tangisku. Situasi ini membuat pikiranku menjadi sempit, rasa ingin melampiaskan amarah tertahan dalam tangis. Ruangan dingin yang besar dan sepi itu, menjadi saksi bagaimana aku berada dalam fase sangat ngedown. Semua kejadian yang menimpa diri, membuat aku menjadi manusia yang benci berencana, dan berhenti berharap pada sesuatu yang hanya indah dalam bayangan.

“God, I want to struggled my dream, defeating my hesitancy, and be focus with my way. You know that I’m tired. You know that its difficult for me, You know that I’m squeezing my last drop for energy. But you also know that you would never place me in a situation that I can’t handle”

Fight!

Minggu, 21 Mei 2017



Cerita Dibalik Skripsi


                Pancaran sinar matahari sore itu membuat langit rumah berwarna jingga, hingga menggelap seiring berjalannya waktu. Satu buah pesan masuk ke ponselku, membawa kabar mengejutkan dan membuat diri tak dapat tidur. Sebuah nomor yang ku ketahui siapa di sebrang sana memintaku menghubunginya. Salah seorang yang selama ini telah membantuku untuk bisa mendapatkan gelar sarjana sesuai dengan target, sebut saja ibu T. Beliau merupakan petugas pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) di salah satu rumah sakit negeri di Jakarta, sebuah rumah sakit dengan pasien yang cukup banyak, yang aku harapkan dapat menerima kehadiranku untuk bisa menyelesaikan tugas akhirku sebagai seorang sarjana. Aku menghubungi beliau dengan ponselku, dan menanyakan kabar apa yang akan beliau sampaikan kepadaku. Dengan penuh kesabaran dan tenang, beliau menyampaikan maksudnya menghubungiku, memberikan kabar yang sontak membuat jantung seakan berhenti berdetak. Lemas, sedih, ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya, namun aku sadar kalau sedang berada di rumah, dan akhirnya hanya tetesan air mata yang bisa aku respon terhadap kabar tersebut. ‘Maaf dek, ibu gak bisa lagi bantu kamu. Silahkan cari tempat penelitian lain. Masih banyak kok rumah sakit yang menerima penelitian farmasi’. Dengan pipi yang basah dan suara parau yang menahan emosi kesedihan, aku meminta penjelasan, memohon surat penolakan, dan masih sempat bertanya perjanjian seperti apa yang harus aku penuhi. Namun jawaban dari beliau tidak dapat memenuhi harapanku, keputusan rumah sakit sudah bulat. Aku diusir secara sepihak dan terpaksa mencari rumah sakit lain, sebagai tempatku memperoleh data penelitian.


            Pembatalan tersebut bukan tanpa sebab, dan kesedihanku sangatlah beralasan. Surat perizinan penelitian sudah ku berikan ke rumah sakit sejak awal tahun, dan sudah mendapatkan balasan di akhir bulan Januari. Aku diterima di rumah sakit tersebut dan sudah bisa ambil data sejak Februari, biaya penelitian sudah kubayarkan sesuai dengan ketentuan, dan surat penerimaan telah diperoleh, namun karena kegiatan praktikum kerja lapangan di bulan Februari dan laporannya yang harus selesai di bulan maret, aku memprioritaskan praktikum kerja lapangan tersebut, dan berpikir jika satu sudah selesai maka aku bisa fokus mengerjakan tugas akhirku. Rumah sakit menerima alasanku tersebut, dan tidak masalah jika aku harus menunda pengambilan data. Setelah selesai dengan urusan praktikum kerja lapangan, aku kembali ke rumah sakit untuk mengkonfirmasi kembali terkait penelitian. Ibu T menginfokan bahwa akan dilaksanakan akreditasi di rumah sakit tersebut hingga tanggal 21 April, dan segala bentuk kegiatan yang sifatnya berkaitan dengan orang eksternal harus diberhentikan sementara. Aku memaklumi hal tersebut, karena memang semua petugas di rumah sakit akan sibuk dengan adanya akreditasi. Aku memutuskan untuk menyelesaikan proposal skripsiku dengan harapan agar di bulan April dapat maju seminar.
            Seminar proposal telah dilaksanakan, aku kembali ke rumah sakit di bulan Mei, menanyakan kembali terkait waktu pengambilan data dapat dilakukan. Ibu T mencoba menjelaskan, bahwa setelah akreditasi ada 12 pegawai sipil di instansi tersebut yang harus pensiun, sehingga dilakukan pemutaran posisi. Ibu T termasuk pegawai yang harus dipindahkan posisinya, tidak lagi berada di DIKLAT tersebut. Namun, Ibu T masih akan membantu aku karena memang aku adalah tanggung jawab beliau. Selain itu, dengan adanya tim DIKLAT baru di rumah sakit, maka ada kebijakan baru terkait perizinan penelitian, dan mahasiswa yang akan penelitian di rumah sakit tersebut harus menyesuaikan dengan kebijakan yang baru tersebut. Aku adalah salah satu mahasiswa yang mendapatkan perizinan penelitian sesuai dengan kebijakan lama, pihak DIKLAT yang baru tidak dapat menerima alasan tersebut, dan tidak dapat mengakui surat penerimaanku. Aku berpikir akan memperjuangkan tempat penelitianku itu, namun sangat disayangkan sekali karena bantuan dari Ibu T dianggap menyalahi prosedur oleh petugas DIKLAT yang baru dan petugas instalasi farmasi. Terjadi gesekan antara sesama pegawai tersebut, dan aku berpikir itu adalah masalah internal. Aku khawatir jika memaksakan diri melanjutkan perjuanganku di tempat tersebut, akan membuat masalah internal tersebut menjadi besar. Aku mundur, mencari tempat penelitian lain.
            Penolakan tersebut  terjadi di pertengahan bulan Mei, dimana targetku saat itu adalah telah selesai melakukan pengambilan data. Mau bagaimana lagi jika kejadian di luar dugaan tersebut harus terjadi. Patah semangat pasti, karena aku berpikir prosesku untuk mendapatkan gelar sarjana akan kembali membutuhkan waktu yang lama. Impianku untuk diwisuda bulan Agustus harus kandas. Aku yang sejak awal berpikir bahwa langkahku untuk memilih penelitian klinis akan berjalan sesuai rencana dan bisa selesai tepat waktu, nyatanya membuat pikiranku berubah. Setiap mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir atau skripsi akan memiliki masalah sendiri. Mungkin tidak ada yang lurus-lurus saja. Maka tak heran jika banyak yang tidak selesai dengan 8 semester, namun ada juga yang bisa selesai kurang dari 8 semester. Tetaplah semangat, untuk bisa mendapatkan gelar sarjana. Dan kini, aku harus berjuang kembali menghadapi birokrasi izin penelitian di tempat tujuanku, semoga Allah memudahkan prosesku kali ini, sehingga semangatku tidak kembali kendor, dan kelak segera mendapatkan gelar sarjana.

Jumat, 17 Februari 2017



Ketika Aku (harus) Bicara Antara PILKADA DKI dan Agama......

            Dilahirkan di tahun 1995 di Jakarta, hadir di tengah keluarga turunan Betawi dan lingkungan yang masih amat kental dengan budaya asli Jakarta menjadikan aku seorang anak ibukota yang medok dengan budaya betawi. Ngomong ceplas ceplos, sanak keluarga yang selalu ramai, rumah yang berdekatan masih menjadi bagian dari kehidupan sampai saat ini. Hingga tahun ini, 2017 aku masih berada di Jakarta. Bukan Jakarta yang ada di pusat kota, melainkan Jakarta pinggiran yang bertetangga dengan Tangerang Selatan. Lahir dan besar di Jakarta, dan belum tau apakah hingga tua berada di ibukota negara republik ini. Belum pernah menjadi anak rantau walaupun hati kecil sangat ingin merasakan. Takdir berkata lain, aku harus menjadi tuan rumah yang menyambut pendatang untuk menuntut ilmu. Menyambut mereka yang mencari kehidupan lebih layak, dan menyambut mereka yang mengharapkan masa depan lebih cerah. Aku menyaksikan perubahan di Jakarta, walau hanya di tempat aku tinggal. Aku merasakan bagaimana lingkunganku yang khas dengan budaya Jakarta perlahan mulai menghilang karena globalisasi dan semakin banyaknya pendatang yang membawa efek. Menyadari saudara setanah tinggal harus tergusur di tanah lahirnya dan pindah di kota sebelah. Menyedihkan memang, ketika orang Betawi harus meninggalkan rumahnya karena tidak mampu bersaing dan karena sifat ketamakan. Namun mungkin inilah hidup, dimana seleksi alam dan persaingan terus terjadi. Jakarta mungkin tidak lagi milik orang Betawi, keheterogenan penduduknya membuat Jakarta bisa dipanggil Megapolitan. Menjadi ibukota negara yang memaksa Jakarta harus menjadi pusat pemerintahan. Pembangunan di kota ini diharapkan menjadi percontohan bagi daerah lain di luar Jakarta. Urbanisasi tidak dilarang, namun dengan urbanisasi ini membuat hati kecil meringis menyaksikan perlahan budayanya harus luntur. Jakarta mungkin tidak lagi menjadi milik orang Betawi, karena penduduk asli Betawi sudah tergusur dan menyisakan sedikit yang bisa bertahan.

            Mungkin bagi Anda ini bukanlah masalah yang besar, tapi bagi aku ini adalah kenyataan yang menyakitkan. Terlebih ini terasa saat moment PILKADA seperti saat ini. Mereka yang menggunakan hak suara untuk memilih pemimpin ibukota, tidak banyak yang masih keturunan Betawi. Jakarta sebagai central, menaruhkan banyak harapan bagi mereka yang memutuskan merantau di kota ini. Saat ini, PILKADA DKI Jakarta tidak hanya tentang masa depan Jakarta melainkan masa depan umat islam. Loh ko jadi nyambung kesana? Flashback masalah yang terjadi di Jakarta semua orang akan tau apa maksudnya. Aku seorang muslim, agamaku tidak mengajarkan umatnya untuk menimbulkan perpecahan. Agamaku mencintai kedamaian, namun suatu statement membuat umat muslim harus melakukan tindakan. Jika bukan karena seorang pemimpin ibukota yang mencetuskan statement tersebut, mungkin aksi yang dilakukan umat muslim tidak akan seviral ini. Statement yang juga masih pro kontra apakah termasuk penistaan atau tidak, mungkin lebih baik tidak diucapkan oleh seorang pemimpin agar tidak menimbulkan konflik. Pemimpin yang seharusnya bisa menyatukan, malah beliau yang memulai perpecahan. Mereka yang tidak sependapat mungkin akan menganggap ini hal yang berlebihan, namun agamaku mengajarkan bahwa umatnya harus selalu membela agama yang menjadi penuntun hidup. Jika hal ini terajadi pada agama Anda, apa yang akan Anda perbuat?

            Belum selesai dengan kasus tersebut, sang pemimpin kembali mencalonkan diri untuk bisa melanjutkan perjuangannya membawa perubahan di ibukota. Hal tersebut membuat telinga ini semakin sering mendengar nama pemimpin tersebut, dan membuat banyak orang harus berstatement  mengkaitkan PILKADA dengan agama. Mungkin, umat muslim di seluruh nusantara saat ini sedang berharap bahwa mereka berstatus penduduk Jakarta agar bisa memiliki hak suara dalam menentukan nasib ibukota, dan nasib agama mereka. Umat muslim sangat berharap ibukota ini dipimpin oleh pemimpin baru yang bisa memimpin sesuai ajaran Islam, sehingga mereka menitipkan harapan tersebut kepada penduduk di Jakarta. Akupun memilih pemimpin muslim yang akan memimpin kota kelahiranku. Riweh, panas, dengan argumen beberapa orang dan dimanapun dengan suasana PILKADA DKI Jakarta, bahkan walaupun PILKADA ini serentak di beberapa daerah Indonesia, rasanya PILKADA hanya milik Jakarta.

            Aku tidak tahu apakah pemimpin ibukota saat ini memiliki ‘tujuan’ khusus atau tidak, yang aku tau beliau pasti memperjuangkan agar Jakarta semakin layak untuk disebut ibukota. Aku tidak tahu ‘rencana’ apa yang dipersiapkan untuk mewujudkan hal tersebut, yang aku tau beliau sudah berusaha. Aku tidak menyebut beliau buruk dalam memimpin, karena aku pernah merasakan menjadi seorang pemimpin dan itu sangat sulit dijalankan. Mewujudkan banyak harapan dengan waktu 24 jam dalam sehari. Memikul amanah agar menjadi berkah. Ada yang suka, dan banyak pula yang tidak suka dengan pemimpin ibukota saat ini. Keduanya selalu saling berargumen, dan mencela selalu dilakukan.

            PILAKADA masih berlangsung. Aku bukanlah seorang muslim yang tidak luput dari dosa. Aku tidak sempurna, aku juga masih banyak kekurangan dalam beribadah. Ketika banyak cibiran yang mengkaitkan politik dengan agama, aku memilih diam untuk tidak berkomentar banyak. Karena yang aku lihat dari sudut pandangku, terlalu banyak berkomentar untuk hal tersebut malah akan semakin menimbulkan perpecahan. ‘Pilihlah pemimpin muslim’ aku sepakat dengan orang yang berkomentar tersebut, karena hal tersebut sesuai dengan Al-Quran surat An-Nisa ayat 138-140. ‘yailah dia kan udah ngasih perubahan, gausah sok paling beriman pake ngelarang larang’ aku juga sepakat dengan statement tersebut karena memang benar beliau sudah berusaha. Tapi toleransi beragama harus kembali kita tunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan keyakinan. Bukan mau sok punya iman yang tinggi, tapi dengan memilih pemimpin muslim, aku telah mengikuti ajaran agamaku dan setidaknya tidak menambah dosa. Ditanya kenapa milih pemimpin muslim padahal imannya belum kuat sama seperti ditanya kenapa aku berhijab padahal akhlakku belum baik.

            PILKADA masih berlangsung. Saat beberapa lembaga melakukan penghitungan cepat banyak yang memiliki hasil bahwa sang pemimpin tersebut berada dalam urutan teratas. Putaran kedua nampaknya akan terjadi. Beberapa teman dari kota sebrang berpendapat ‘gila yak, udah di demo 3x masih aja ada pemilihnya’ atau ‘walaupun unggul, masih banyak warga DKI Jakarta yang mengingkan pemimpin baru jika dilihat dari persentase pemilih yang memilih pemimpin muslim’. Aku hanya bisa bergumam dalam hati untuk menjawab, ‘kan yang mendemo masyarakat luar Jakarta, orang Jakartanya gak banyak yang mau ikutan ngedemo’. Pasti ada orang muslim yang turut memilih beliau, tidak bisa disalahkan juga karena itu menjadi hak mereka. Tapi ingatlah nasib umat muslim, ingatlah jika memang kabar burung PKI akan kembali tidak menjadi kabar burung. Aku bukanlah mahasiswa sejarah atau mahasiswa farmasi yang sangat mengetahui sejarah. Aku tidak mengerti dengan baik bagaimana masa PKI dulu, apakah benar saat jaman PKI banyak ulama yang ditangkap atau sekedar difitnah? tapi aku benar-benar sangat khawatir jika memang hal tersebut benar. Aku belum siap untuk meninggalkan kota kelahiranku yang telah memberikan banyak kenangan untuk hidupku. Jika memang tujuan dari semua kejadian ini benar untuk menjajah kembali, aku belum siap untuk menjadi budak penjajah. Jika putaran kedua benar terjadi, mungkin ini menjadi kesempatan bagi umat muslim yang ‘khilaf’ saat menentukan pilihannya kemarin.

            Aku sangat berharap pemimpin Jakarta kelak seorang muslim yang tetap mempertahankan budaya Betawi sebagai budaya asli Jakarta, namun tetap mengkonsepkan Jakarta agar bisa ‘kekinian’. Pemimpin yang aku pilihpun adalah seorang manusia, khalifah bumi yang tidak akan luput dari dosa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak ketika beliau terpilih, karena belajar dari pengalaman kalau bagaimanapun bagusnya program yang dimiliki oleh seorang pemimpin dimasa pemerintahannya, jika rakyatnya masih dengan sifat yang sama maka programnya tidak akan berjalan baik sesuai dengan yang diharapkan, bahkan bisa jadi gagal. Jika gagal, maka rakyat lagi yang kembali mencibir. Karena sudah selayaknya seorang manusia tidak memiliki rasa puas. Seperti sebuah mimpi dalam diri, yang tidak aka terwujud jika tidak dengan sungguh-sungguh diwujudkan. Seperti orang diet, yang tidak akan berhasil kalau tidak menjaga pola makan dan tidak mau merubah life style.

            Aku berharap pemimpin Jakarta bisa memecahkan masalah sesuai ajaran islam tanpa menimbulkan masalah lain. Membuat perubahan untuk seluruh kalangan. Aku banyak menaruh harapan terhadap pemimpin baru kotaku ini, karena harapan adalah pembangkit mewujudkan impian. Untuk saudaraku seiman, jika memang PILKADA terjadi dengan 2 putaran, tolong maknai Q.S An-Nisa:138-140 dengan baik. Bagiku, ini bukan hanya tentang Jakarta lagi namun tentang akhirat. Aku tidak ingin perpecahan dan turut menyebarkan keburukan. Aku hanya ingin turut mengingatkan dan memohon untuk menjaga kota kelahiranku menjadi kota yang akan terus aku banggakan, walau aku terpaksa harus meninggalkannya nanti. Jika perantau hanya menganggap Jakarta sebagai kota pengabul harapan, bagi aku dan orang Betawi lainnya Jakarta adalah kota pemberi kenangan indah. Jika aku harus pergi dari kota ini, aku ingin terus rindu untuk kembali ke Jakarta. Jika menganggap ini hanya PILKADA, bagi aku dan umat muslim lainnya ini adalah perjuangan agama untuk akhirat.

“Kabarkanlah kepada mereka orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari atau diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (Q.S An-Nisa 138-140).